Forkot, Pandeglang – Iklim demokrasi di lingkungan Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten tengah menjadi sorotan.
Sejumlah mahasiswa menilai ruang kebebasan berpendapat dan partisipasi organisasi kemahasiswaan mengalami penyempitan, sehingga memunculkan kritik terhadap kinerja Wakil Rektor (Warek) III yang membidangi kemahasiswaan.
Kampus yang idealnya menjadi ruang tumbuhnya pemikiran kritis, diskusi terbuka, dan gerakan intelektual dinilai belum sepenuhnya menghadirkan suasana tersebut.
Beberapa mahasiswa menyoroti adanya kecenderungan birokrasi yang tertutup serta minimnya pelibatan organisasi mahasiswa (Ormawa) dalam proses pengambilan keputusan strategis.
Rahman, salah satu mahasiswa, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut berdampak pada menurunnya kualitas demokrasi kampus.
Ia menilai tata kelola kemahasiswaan saat ini belum mencerminkan prinsip keterbukaan dan partisipatif.
“Seharusnya kampus menjadi ruang lahirnya gagasan kritis. Namun, yang terjadi justru pembatasan ruang demokrasi. Ormawa tidak dilibatkan secara optimal dalam keputusan-keputusan penting yang menyangkut kemajuan kampus,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran Warek III yang dinilai belum maksimal dalam menjalankan fungsi pembinaan dan komunikasi dengan mahasiswa.
Menurutnya, terdapat beberapa persoalan mendasar yang perlu segera dibenahi, di antaranya kurangnya harmonisasi hubungan antara birokrasi dan mahasiswa, dugaan ketidaksesuaian dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi (tupoksi), serta kebijakan yang dianggap belum berpihak pada pengembangan kreativitas mahasiswa.
Kondisi tersebut memicu munculnya kritik simbolik di kalangan mahasiswa dengan jargon “Warek III Dicari!!!” sebagai bentuk kekecewaan atas terbatasnya akses komunikasi dan transparansi di tingkat pimpinan kampus.
Mahasiswa berharap adanya figur pimpinan yang mampu memahami peran strategis mahasiswa sebagai mitra dalam membangun kampus, bukan sekadar pelengkap administratif.
“Kami membutuhkan pemimpin yang terbuka dan responsif terhadap aspirasi mahasiswa. Situasi saat ini berpotensi menggerus kepercayaan terhadap birokrasi kampus,” tambah Rahman.
Sebagai bentuk solusi, mahasiswa mendesak pihak rektorat untuk segera melakukan evaluasi terhadap kinerja Warek III serta membuka ruang dialog terbuka bersama Ormawa dan civitas akademika.
Langkah tersebut dinilai penting guna memulihkan kembali iklim demokrasi kampus dan menjaga kepercayaan mahasiswa terhadap institusi pendidikan sebagai ruang yang menjunjung tinggi nilai-nilai keterbukaan, partisipasi, dan kebebasan akademik. (Riyanto)

