Forkot, Pandeglang – Di tengah berbagai program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan, masih ada warga yang hidup dalam kondisi serba kekurangan dan menunggu perhatian. Salah satunya adalah Agus Tiansari (36), warga Kampung Cisampih, RT 002/003, Desa Pakuluran, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Banten. Ia tinggal di rumah yang tidak layak huni bersama istri dan dua anaknya, (28/11).
Setiap hari, Agus bekerja sebagai buruh tani. Meski dikenal sebagai petani di lingkungannya, ia tidak memiliki lahan sendiri. Untuk menghidupi keluarganya, Agus mengandalkan upah dari pemilik sawah yang membutuhkan tenaganya, mulai dari mencangkul, menanam, hingga memanen padi. Pendapatannya yang tidak tetap membuat keluarganya hidup pas-pasan.
Agus mengaku belum pernah menerima bantuan sosial apa pun dari pemerintah.
“Saya belum pernah merasakan bantuan pemerintah. Penghasilan saya hanya cukup untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah anak, itu pun kadang kurang,” katanya.
Walau hidup dalam keterbatasan, Agus tetap ingin kedua anaknya bersekolah. Ia percaya pendidikan bisa memberi masa depan yang lebih baik bagi mereka. Namun, kebutuhan sehari-hari sering bertabrakan dengan biaya sekolah yang harus dibayar.
Agus berharap pemerintah desa maupun kabupaten dapat lebih memperhatikan warga kecil seperti dirinya dan menyalurkan bantuan secara tepat sasaran.
“Saya hanya berharap ada perhatian. Kalau bisa, bantuannya benar-benar sampai ke warga yang membutuhkan seperti kami,” ujarnya.
Kisah Agus Tiansari menunjukkan bahwa program bantuan sosial dan perbaikan rumah tidak layak huni masih sangat dibutuhkan di beberapa daerah. Pemerintah diharapkan dapat melakukan pendataan dan pengecekan ulang agar bantuan benar-benar sampai kepada keluarga yang benar-benar membutuhkan. (Ari/ay)

