
Forkot, Pandeglang – Musim kemarau panjang yang diprediksi berlangsung hingga September 2026 mulai membebani petani di Kabupaten Pandeglang, Banten. Data terbaru menunjukkan, selain 686 hektare sawah yang sudah mengering, ada 515 hektare lagi yang kini dalam kondisi kritis dan terancam puso jika air tidak segera tersedia.
Sebagian besar lahan ini bergantung pada air hujan tanpa irigasi tetap. Sebelumnya, 590 hektare sudah dipanen lebih awal untuk menyelamatkan hasil, namun sisanya kini terancam gagal total.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Pandeglang, Nuridawati, menyebut wilayah selatan paling terdampak, seperti Sindangresmi (200 hektare), Patia (90 hektare), Picung (80 hektare), Pagelaran (60 hektare), dan Sukaresmi (55 hektare). Sementara wilayah utara relatif lebih aman karena punya sumber air lebih baik.
Pemerintah daerah bersama Pemprov Banten sedang mempercepat program pompa dan penyaluran pipa untuk mengalirkan air ke lahan yang terancam. Selain sawah, kekeringan juga membuat 27 desa di sembilan kecamatan kesulitan air bersih, sehingga warga harus bergantung pada kiriman tangki air.
Para petani berharap upaya ini berjalan cepat agar lahan mereka tidak rusak dan kerugian bisa ditekan. Masalah ini menjadi pengingat pentingnya pembangunan irigasi yang memadai demi menjaga hasil panen setiap tahunnya. (red)












