Forkot, Opini – Pagi-pagi di Rangkasbitung, pemandangannya tidak berubah. Ibu-ibu masih antre di pasar, anak sekolah masih berdesakan di angkot, dan pedagang masih membuka lapaknya dengan harapan yang sama seperti kemarin. Yang berubah hanya satu: harga.
Beras naik. Minyak naik. Ongkos ojek naik. Tapi gaji? Masih segitu-gitu saja. Lapangan kerja? Malah menyusut.
Inilah ironi terbesar Rangkasbitung di tahun 2026. Kota ini digadang-gadang sebagai pusat Kabupaten Lebak, pintu gerbang Banten selatan, kota yang dilewati KRL dan dilirik investor. Tapi bagi warganya, kemajuan itu terasa jauh. Seperti menonton kota lain tumbuh dari balik kaca.
Harga Naik, Tapi Bukan Karena Kita Makin Kaya
Kita perlu jujur. Kenaikan harga di Rangkasbitung bukan karena daya beli naik. Bukan karena orang-orang tiba-tiba boros. Tapi karena biaya hidup secara nasional memang naik, sementara penghasilan orang Rangkasbitung tidak ikut naik dengan kecepatan yang sama.
Oleh : Karina Bela Agustin
Mahasiswa Unpam Serang, Prodi Administrasi Negara S-1

























